This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Promkes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Promkes. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Desember 2013

Golongan Darah Langka Golongan Darah Paling Langka di Dunia, Parabombay Salah Satunya


Berdasarkan antigen yang dimilikinya, darah memiliki 4 golongan yang terkenal yakni A, B, AB, atau O. Namun pada kasus tertentu, seseorang bisa dilahirkan dengan golongan darah langka di luar keempat golongan tersebut.

Beberapa contoh golongan darah yang dikategorikan langka adalah sebagai berikut,

   1. Golongan Darah Rhesus Negatif

Rhesus adalah sebuah penggolongan atas ada atau tidaknya substansi antigen-D pada darah. Rhesus positif berarti ditemukan antigen-D dalam darah dan rhesus negatif berarti tidak ada antigen-D.

Umumnya, Rhesus posistif dimiliki oleh bangsa Asia. Sementara Rhesus negatif dimiliki oleh bangsa Eropa.

  2. Golongan Darah Parabombay

Dikutip dari ncbi.nlm.nih.gov, situs resmi dari National Center for Biotechnology Information Amerika Serikat, kasus orang dengan golongan darah yang langka pertama kali ditemukan di India. Nama parabombay pun diambil dari Bombay (sekarang Mumbai), nama kota tempat pertama kali kasus tersebut ditemukan.

Dr dr Yuyun Soedarmono, MSc, Direktur Unit Donor Darah Pusat Palang Merah Indonesia (PMI) mengatakan bahwa golongan darah parabombay sangat langka donornya di Indonesia.

"Donor yang terdaftar hanya satu orang," ujarnya.
   
   3. Golongan Darah Vel

Bermula pada suatu kasus di tahun 1952, seorang wanita berusia 66 tahun di New York menderita kanker usus besar. Pasien tersebut mendapatkan transfusi darah namun tanpa diduga mengalami penolakan dan berpotensi fatal. Para peneliti menggunakan nama belakang si pasien untuk mengingat kasusnya, yaitu kasus pasien Vel.

Kebanyakan orang di dunia memiliki golongan darah Vel-positif. Diperkirakan ada lebih dari 200.000 orang di Eropa dan lebih dari 100.000 di Amerika Utara yang memiliki golongan darah Vel-negatif. Pada 1 dari 2.500 orang keturunan Eropa yang memiliki Vel negatif lalu menerima transfusi Vel positif, tubuhnya akan mengalami gagal ginjal dan kematian dengan mudah..

"Dasar molekuler dari golongan darah Vel negatif tetap sulit dipahami selama lebih dari 60 tahun, meskipun upayanya cukup intens di seluruh dunia," kata peneliti, Bryan Ballif, seorang ahli biokimia dan spectrometrist massa di University of Vermont, seperti dilansir LiveScience (1/4/2013).

  4. Golongan Darah Langereis (LAN) dan Junior (JR)

Menurut para peneliti, sebagian besar manusia memiliki golongan darah LAN positif atau JR positif. Hanya sebagian kecil yang memiliki golongan darah JR negatif atau LAN negatif, terutama sekali sering ditemukan di wilayah tertentu seperti Jepang.

Menurut penelitian, orang-orang dengan golongan LAN negatif dan JR negatif cenderung sulit mengeluarkan sisa metabolisme obat kanker.

"Penemuan 2 jenis golongan darah ini penting dalam menentukan pengobatan. Kami ingin semua orang tahu golongan darahnya sedetail mungkin untuk mengantisipasi efek samping," kata salah seorang peneliti, Dr Lionel Arnaud dari University of Vermont seperti dikutip dari Menshealth.com.

Minggu, 17 November 2013

Risiko Stroke Turun Jika Jalan Kaki Lebih Lama, Bukan Lebih Cepat

Manfaat olahraga ringan seperti jalan kaki memang telah lama diakui, salah satunya menurunkan risiko stroke. Namun sebuah studi menemukan manfaat itu baru terasa jika seseorang menghabiskan lebih banyak waktu untuk jalan kaki, bukan sekadar jalan cepat saja.

Menurut peneliti hanya dengan berjalan kaki sedikitnya satu hingga dua jam sehari maka risiko stroke pada orang-orang berusia 60-an tahun akan berkurang. Tapi olahraga jalan kaki yang dimaksud bukanlah jalan kaki yang membutuhkan banyak tenaga atau berkecepatan tinggi, melainkan yang biasa saja.

Fakta ini telah dibuktikan peneliti dengan mengamati 3.435 pria berusia 60-80 tahun yang ditanyai tentang jarak yang mereka tempuh untuk berjalan kaki setiap minggunya dan kecepatan yang mereka pakai biasanya.

Seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (16/11/2013), ternyata partisipan yang rutin jalan kaki selama 8-14 jam per minggu kemungkinannya sepertiga lebih kecil untuk mengidap stroke ketimbang partisipan yang berjalan kaki kurang dari tiga jam seminggu. Bahkan bagi pria yang berjalan lebih dari 22 jam per minggu, risikonya mencapai dua per tiga lebih rendah.

"Jadi jika Anda terus mengamati 1.000 pria yang rutin jalan kaki 8-14 jam perminggu selama 10 tahun, rata-rata mereka hanya akan mengalami 55 kali stroke, tapi bagi kelompok yang hanya berjalan kaki tiga jam perminggu strokenya bisa sampai 80 kali," terang peneliti Dr Barbara Jefferis dari University College London.

"Itu berarti waktu total yang dihabiskan untuk berjalan kaki dapat memberikan perlindungan yang lebih konsisten melawan stroke daripada kecepatannya; dan secara keseluruhan tampaknya semakin lama waktu yang dihabiskan untuk jalan kaki, maka manfaatnya semakin besar," imbuhnya.

Dr. Shannon Amoils dari British Heart Foundation pun sepakat dengan temuan studi ini dan menimpali, "Berapapun usia Anda, penting untuk tetap aktif sepanjang hari. Dan studi ini memperlihatkan bahwa jalan kaki setiap hari dapat membantu mengurangi risiko stroke Anda. Setidaknya olahraga rutin, bahkan seperti jalan-jalan di taman saja bisa jadi cara efektif agar seseorang tetap sehat."


Sumber : Detik Health

Rabu, 06 November 2013

Obat Palsu Beredar di Mana Saja?


Bagi pasien penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes, minum obat seumur hidup menjadi keharusan untuk 'menyambung' nyawa. Sayangnya, ada saja oknum tak bertanggung jawab yang memalsukan obat-obat penting tersebut. Bukannya mengobati, obat palsu justru dapat memberikan bahaya lain. Lantas di mana saja obat palsu sering beredar?

Suatu obat dikatakan palsu bila tidak memiliki izin edar atau nomor izin edar tidak sesuai dengan sesuai dengan yang terdaftar di Badan POM. Bila sudah terbiasa mengonsumsi, maka obat palsu dapat dikenali dari bentuk, warna, rasa atau tekstur obat dan kemasannya yang tidak seperti biasanya, serta tidak mencantumkan nama dan alamat produsen.

"Palsu itu namanya sama, meniru merek yang ada. Lalu nama belum terdaftar di badan POM, itu bisa dikatakan ilegal juga. Isi obatnya juga tidak sesuai yang tertera di tabel," ujar Dra. A Retno Tyas Utami, Apt, M.Epid, Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA BPOM, saat berbincang dengan detikHealth, seperti ditulis pada Rabu (6/11/2013).

Menurut Retno, obat-obat palsu tersebut kini banyak dijumpai pada penjualan 'door to door' atau penjual obat keliling, yang bisa ditelepon untuk pemesanan, tapi tidak jelas asal-usul obatnya. Obat yang dijual secara online juga patut diwaspadai, karena sebenarnya di Indonesia tidak diizinkan adanya farmasi online atau dagang obat secara online.

"Apotek bisa kemasukan obat palsu kalau tidak tertib. Maka dari itu kita sangat menghimbau supaya apotek-apotek membeli barang dari pedagang besar yang resmi," tambah Retno.

Tidak tertib artinya apotek mengambil pasokan obat bukan dari sumber resmi yaitu pedagang besar farmasi yang memiliki izin. Karena itu, lanjut Retno, apotek tidak diperbolehkan membeli obat dari orang atau pedagang obat yang tidak jelas.

"Kita beri edukasi kepada organisasi profesi termasuk Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Namun hanya saja sekarang itu banyak apotek yang punya lebih kuasa, tapi menurut saya itu menjadi tanggung jawab apoteker untuk lihat barang yang dipasok," tutupnya.

Sumber : Detik Health

Jangan Tergiur Harga Murah, Ini Efeknya Menggunakan Obat Palsu



Memasukkan zat apapun ke dalam tubuh jika dosis dan kandungannya tidak tepat bisa menimbulkan efek berbahaya, termasuk obat. Efek ini tentu akan semakin buruk jika obat yang diminum justru palsu. Apa saja yang bisa diakibatkan jika tanpa disadari mengonsumsi obat palsu?

"Bahaya pakai obat palsu itu pasti enggak sembuh penyakitnya, kalau udah jadi racun di tubuh bisa menimbulkan efek komplikasi dan penyakitnya bisa makin parah," ujar Dra A. Retno Tyas Utami, Apt, M.Epid, Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan Napza Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (6/11/2013).

Oleh sebab itu, menurutnya apoteker memiliki tugas penting untuk mewaspadai setiap obat yang didistribusikan ke apoteknya. Apoteker harus bisa memastikan dari sumber mana saja obat tersebut datang agar bisa dipertanggung jawabkan. Selain itu, apoteker juga harus melakukan praktik kefarmasian, di antaranya mengecek tanggal kedaluwarsa. 

"Kalau sudah dekat (tanggal kedaluwarsa) segera kembalikan ke distributornya, kalau pedagang resmi dia mau kok dikembalikan obatnya," tutur Retno.

Sependapat dengan Retno, Drs M. Dani Pratomo, MM, Apt, Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), menegaskan bahwa apotek harus mengikuti prosedur dari Kemenkes RI. Di mana pengadaan obat harus dilakukan dengan membeli di sumber resmi agar apotek bisa meminta tanggung jawab jika ada keluhan dari konsumen.

Widyaretna Buenastuti, Ketua Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), menegaskan kepadadetikHealth bahwa penggunaan obat palsu sangat berbahaya bagi kesehatan. Ia menganjurkan masyarakat membeli obat hanya di apotik, meskipun ia sendiri mengakui apotik masih bisa kecolongan obat palsu.

"Ibaratnya rumah sudah digembok kan masih bisa juga kemalingan, sama seperti itu. Apalagi proses distribusi obat itu kan panjang ya, makanya bisa saja dari 5 boks obat ada 1 yang diganti dengan obat palsu. Yang pasti itu dilakukan oleh oknum yang ingin dapat untung," terang Widya.

Lantas apa sebenarnya efek buruk penggunaan obat palsu bagi tubuh? Menurut Dani, penggunaan obat palsu 1 kali mungkin tak ada efeknya. Lain halnya jika penggunaannya berkali-kali. Bisa saja penyakitnya tidak sembuh, misalnya pasien hipertensi atau diabetes. Kadar darah tinggi atau gula darah akan terus meningkat atau bahkan merembet pada masalah kesehatan lainnya, bergantung dari zat apa yang dipakai.

Banyak orang lebih memilih untuk tetap membeli obat di kios pinggir jalan karena tergiur harganya yang lebih murah. Padahal harga yang murah tak menjamin kualitas obat tersebut. 

"Saya himbau masyarakat jangan tergiur harga murah. Hanya memperhitungkan beda harga beberapa ribu tapi nanti akibat yang ditimbulkan justru bikin kita bisa mengeluarkan uang lebih banyak dari beda harga itu tadi. Ada obat asli harganya Rp 10 ribu, lalu ada yang jual Rp 5 ribu dibeli tapi nanti sakit berobat sampai ratusan ribu kan jatuhnya lebih mahal yang palsu," tutur Widya.

Sumber : Detik Health

Obat Rusak Padahal Belum Kedaluwarsa? Ini Penyebabnya


Sebagian orang kerap memiliki kebiasaan menyimpan obat. Hal itu memang sah-sah saja dilakukan apalagi jika obat tersebut belum kedaluwarsa. Tapi jangan salah, ada juga lho obat yang sudah rusak dan tak layak pakai meskipun belum memasuki tanggal kedaluwarsa.

Menurut Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan Napza Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dra. A Retno Tyas Utami, Apt, M.Epid, obat yang belum kedaluwarsa tapi sudah rusak bisa disebabkan karena cara penyimpanannya yang tidak sesuai.

"Penyimpanannya nggak sesuai aturan, bukan di suhu ruangan tapi di suhu panas yang kena matahari langsung. Kena hujan juga bisa bikin lebih cepat rusak. Fisiknya juga sudah berubah bisa dilihat dari warnanya misal yang tadinya putih jadi kuning," papar Retno dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis Rabu (6/11/2013).

Pernyataan Retno diamini Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Drs M. Dani Pratomo, MM, Apt. Ia menuturkan stabilitas obat memang dipengaruhi cara penyimpanannya. Meskipun tertera tanggal kedaluwarsanya masih dua tahun lagi, tapi obat bisa saja rusak.

"Misalnya obat batuk sudah dikonsumsi, terus dibiarkan lalu warna dan baunya berubah itu sudah indikasi bahwa obatnya rusak. Oleh karena itu untuk penyimpanan, perhatikan petunjuknya" kata Dani.

Sebaiknya, simpan obat di suhu ruangan, jangan di tempat yang terkena matahari langsung. Hal itu bisa menurunkan kandungan obat. Akibatnya, obat tidak bisa bekerja sesuai dengan khasiat yang diinginkan.

Selain karena cara penyimpanan yang tak sesuai petunjuk, obat juga dinyatakan rusak ketika sudah memasuki tanggal kadaluwarsa. Oleh karena itu, menurut Retno penting bagi konsumen untuk rutin mengecek tanggal kadaluwarsa obat yang disimpan.

"Kalau obat kedaluwarsa sudah pasti rusak maka sebaiknya dibuang saja. Karena sudah terjadi penurunan kandungan obat sehingga dosisnya tidak akurat lagi dan efek terapinya tidak maksimal, justru bisa menimbukkan efek lain seperti mual dan iritasi sebagai bentuk penurunan dari reaksi metabolisme obat tadi," jelas Retno.

Hal ini diamini Ketua Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), Widyaretna Buenastuti. "Kalau obat rusak sudah pasti khasiatnya tidak sama dan bisa jadi racun. Sedangkan obat yang expired sudah pasti khasiat, keamanan, dan kualitasnya sudah turun. Maka dari itu kenapa obat harus ada tanggal kedaluwarsanya," kata Widya.

Sumber : Detik Health

Segera Buang Obat Anda Jika Temukan Ciri-ciri Begini pada Obat


Niat hati ingin sembuh malah sakit makin parah gara-gara beli obat palsu ataupun obat yang sudah rusak tapi tetap beredar di pasaran. Tak ada solusi lain selain waspada dan tahu caranya mengenali obat palsu dan obat rusak.

Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan Napza Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dra A. Retno Tyas Utami, Apt, M.Epid., memaparkan ciri-ciri obat rusak. "Kapsul ciri-cirinya kalau sudah lembek atau lengket saling menempel gitu bisa. Dia itu kan pembungkusnya dari gelatin yang rentan udara dan gampang rusak, ada kelembaban maka airnya akan meresap ke gelatin itu sehingga kapsulnya jadi lembek."

Sedangkan untuk obat berbentuk salep, warna dan baunya berubah, bisa juga campuran komposisinya yang mulai terlihat seperti terpisah atau mengeras.

Menurut Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Drs M. Dani Pratomo, MM, Apt., salep yang rusak bisa saja disebabkan karena penggunanya cenderung menutup salep tidak terlalu rapat sehingga udara mudah masuk dan hal itu mempercepat proses oksidasi serta menurunkan kualitas salep menjadi lebih cepat.

Begitu pun dengan puyer yang juga tergolong sebagai obat campur atau terdiri atas beberapa komposisi bahan tertentu. Jika rusak, warnanya pun cenderung berubah. "Jadi kalau nggak habis sebaiknya dibuang saja karena kan proses
penumbukannya juga kita nggak tahu bagaimana dan sudah pasti di udara terbuka. Di udara terbuka ada kuman dan bakteri kan, makanya kalau ibu-ibu suka simpan puyer untuk anaknya nanti pas sakitnya kambuh janganlah ya," saran Retno saat dihubungi detikHealth dan ditulis Rabu (6/11/2013).

Lain kapsul dan salep, lain juga ciri obat sirup yang sudah rusak. Menurut Dani, obat sirup seperti halnya obat batuk yang rusak biasanya berubah jadi keruh, yang tadinya jernih langsung mengeruh.

Lalu sebenarnya apakah setiap obat memiliki jangka waktu penggunaan tertentu? "Kalau di apotek tidak dikasih tahu gimana nyimpen obatnya, itu hak pasien untuk nanya. Kalau obat racik stabilitasnya kira-kira tujuh sampai sepuluh hari, seperti puyer kalau sudah lebih dari seminggu sebaiknya dibuang," terang Dani.

Sedangkan obat batuk bisa tahan lama jikalau disimpan di kulkas atau sesuai dengan petunjuk penyimpanan yanga ada pada label. Biasanya mencapai 30 hari setelah dibuka atau sampai tanggal kedaluwarsa.

"Yang gampang itu cek sejak awal obat itu dipakai gimana dan nanti dilihat apakah bentuk, rasa, warnanya tidak sama dengan awalnya. Jika iya, itu sudah rusak berarti," imbuh Widyaretna Buenastuti, Ketua Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP).

Sumber : Detik Health

Kamis, 31 Oktober 2013

Pesan Menkes untuk Tenaga Medis dalam Melayani Pasien HIV-AIDS


 Untuk memperoleh informasi dasar atau layanan HIV-AIDS, masyarakat tak perlu lagi langsung datang ke rumah sakit atau puskesmas. Sebab, mulai hari ini, masyarakat bisa memperoleh informasi HIV-AIDS melalui aplikasi AIDS Digital yang tersedia dalam bentuk webisite atau mobile application.

Dengan adanya AIDS Digital, Menteri Kesehatan dr Nafsiah mboi, SpA, MPH berharap masyarakat tak malu lagi atau enggan untuk mencari layanan terkait HIV. Dengan aplikasi ini, biaya, tenaga, dan waktu bisa dihemat jika masyarakat ingin mengakses informasi atau layanan untuk HIV-AIDS.

"Saya juga minta jajaran rumah sakit baik vertikal, daerah, atau swasta mau melayani masyarakat terkait dengan HIV dengan baik, memperluas kampanye 'Aku Bangga Aku Tahu' termasuk sosialisasi AIDS Digital. Serta memberi layanan kepada ODHA tanpa diskriminasi dan stigma. Serta memberi pelayanan komprehensif berkesinambungan terkait HIV-AIDS," papar Nafsiah.

Hal itu disampaikan Nafsiah dalam acara Peluncuran Tampilan Baru Website Kementerian Kesehatan dan Aplikasi AIDS Digital di Kantor Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (31/10/2013)

Nafsiah menambahkan hampir 71 persen kasus baru HIV terjadi pada kelompok muda. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi melalui AIDS Digital ini diharapkan masyarakat bisa menjauhi perilaku berisiko, tahu, dan mau melakukan upaya pencegahan, serta mau melakukan tes kesehatan jika dia melakukan perilaku berisiko. Sehingga getting to zero yaitu zero new infection, zero related death dan zero stigma and discrimination bisa dicapai.

Hari ini, tak hanya AIDS digital saja yang diluncurkan tetapi juga tampilan baru website Kementerian Kesehatan. "Website yang dulu membosankan, tidak user friendly ternyata bisa dibuat lebih baik. Saya lebih bangga lagi dengan Kementerian Kesehatan karena bisa tingkatkan kerjasama dengan LSM seperti IAC dan teman dari populasi kunci lain," kata Nafsiah.

Tampilan baru website Kementerian Kesehatan akan lebih memudahkan masyarakat untuk mengakses informasi mengenai kesehatan. Tautan link AIDS Digital dan beberapa link terkait informasi kesehatan lainnya kini juga bisa diakses melalui website Kementerian Kesehatan yang memiliki tampilan baru.

Kini website Kementerian Kesehatan memiliki kelebihan dibanding sebelumnya, seperti bisa diakses dari handphone dan tablet, serta bisa terkait dengan berbagai link tentang kesehatan termasuk AIDS Digital. Menkes juga berharap website ini bisa melakukan pemutakhiran data secara periodik sehingga informasi mengenai kesehatan bisa terus di-update oleh masyarakat.

Bosan Gemuk? Konsumsi Cukup Serat Tiap Hari Agar Lebih Langsing


Sudahkah Anda mengonsumsi cukup serat setiap harinya? Seringkali orang lupa bahwa konsumsi serat memberikan efek yang sangat baik bagi sistem pencernaan dan dapat membantu program penurunan berat badan Anda.

Dilansir Huffington Post, Jumat (1/11/2013), sebuah studi terbaru yang melibatkan lebih dari 23.000 responden menunjukkan bahwa mengonsumsi jumlah serat lebih rendah dalam diet membuat mereka berisiko tinggi untuk menjadi obesitas. Tak hanya itu, mereka yang kurang konsumsi serat juga cenderung lebih berisiko mengalami sindrom metabolik dan peradangan kardiovaskular.

"Temuan kami menunjukkan bahwa dari sejumlah responden tersebut, total tingkat asupan seratnya masih sangat rendah dibandingkan dengan yang direkomendasikan. Ini berarti konsumsi serat masih belum terlalu dianggap penting," kata salah seorang peneliti, Cheryl R. Clark, MD, Sc.D., dari The Center for Community Health and Health Equity, Brigham and Women's Hospital, dan Harvard Medical School.

Sesuai pedoman dari Institute of Medicine, wanita berusia 19-50 tahun harus mengonsumsi setidaknya 25 gram serat setiap hari, sedangkan pria pada kelompok usia yang sama harus mengonsumsi minimal 38 gram serat setiap harinya. Sementara wanita yang berusia di atas 50 tahun sebaiknya mengonsumsi sekitar 21 gram serat setiap hari dan pria dalam usia yang sama mengonsumsi 30 gram serat per hari.

Konsumsi cukup serat tidak hanya akan memperbaiki sistem pencernaan dan membantu menurunkan berat badan, tetapi juga melindungi jantung dan mengurangi risiko stroke. 

Makanan seperti buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan tinggi akan serat. Sebuah cangkir raspberry mengandung 8 gram serat, sebuah apel dengan kulit memiliki 4,4 gram serat, dan secangkir lentil memiliki 15,6 gram serat.

Sumber : Detik Health

Mata Lelah Lalu Dikucek? Bisa Infeksi, Bisa Juga Jadi Silinder


Ada banyak cara untuk membuat mata lelah terasa lebih nyaman, salah satunya dikucek. Namun cara ini sangat tidak dianjurkan, sebab selain memicu infeksi juga bisa mengubah kontur mata dan memicu astigmatisma atau mata silinder.

Mata silinder antara lain disebabkan oleh kontur mata yang tidak normal. Luka yang terjadi saat mata dikucek merupakan salah satu penyebab kontur mata berubah, sehingga butuh kacamata dengan lensa silinder untuk bisa melihat dengan baik seperti semula.

"Seperti aspal, kalau kena hujan atau dilewati mobil besar kan rusak. Nah, mata juga begitu kalau sering dikucek," kata dr Nina Ratnaningsih, SpM, MSc (CEH), pakar oftalmologi komunitas dari RS Cicendo, Bandung, dalam perbincangan dengan detikHealth, seperti ditulis pada Rabu (29/10/2013).

Hingga tingkat keparahan tertentu, hampir semua orang sebenarnya mengalami astigmatisme. Seperti dikutip dari WebMD, penggunaan kacamata silinder bahkan tidak terlalu diperlukan pada astigmatisme ringan selama tidak disertai gangguan lain seperti rabun dekat atau rabun jauh.

Selain risiko astigmatisma, risiko infeksi tentu harus diwaspadai bila terjadi luka pada mata akibat dikucek. Kuman apapun bisa menempel di tangah yang tidak bersih, lalu akan berpindah ke mata saat mengucek. Bila terjadi luka, kuman itu pun menjadi lebih mudah masuk ke mata.

Agar tidak perlu dikucek, mata sebaiknya dijaga kesehatannya. Jangan sampai terlalu lelah agar tidak berair, atau justru kering karena terlalu banyak mengalami penguapan. Bila kelembabannya terganggu, maka rasa tidak nyaman di mata akan menggoda tangan untuk menguceknya.

Kalaupun terasa kering dan tidak nyaman, lebih baik gunakan tetes mata daripada harus dikucek. Memang butuh sedikit modal untuk beli tetes mata, namun tidak ada ruginya bila dibandingkan risiko infeksi maupun mata silinder bila mata harus dikucek.

Sumber : Detik Health

Pertolongan Pertama Jika Anak Demam di Malam Hari


 Demam memburuk pada malam hari karena suhu tubuh naik secara alami di malam hari. Akibatnya, demam yang ringan di siang hari dapat naik dengan mudah ketika tidur. Pada anak-anak, demam akan menyebabkan ketidaknyamanan.

Lakukan hal-hal berikut untuk pertolongan pertama:

1. Periksa suhu anak. Lakukan lewat dubur jika anak berusia di bawah 6 bulan.

2. Jika usianya lebih dari 1 tahun, berikan Asetaminofen.

3. Tunggu setengah jam dan periksa suhunya lagi.

4. Jika belum mulai turun, berikan ibuprofen juga.

5. Asetaminofen dapat diberikan setiap 4 jam, ibuprofen diberikan setiap 6 - 8 jam.

6. Anak dapat dimandikan pada suhu ruangan (25° - 27° C) untuk membantu mendinginkan suhu tubuhnya.

7. Pastikan anak tetap terhidrasi dengan memberikan air, susu formula atau ASI jika masih bayi sebelum anak kembali tidur.

8. Untuk demam di atas 38° C pada bayi dibawah 3 bulan, perlu penanganan langsung oleh dokter.

9. Segera bawa ke dokter jika suhu tinggi disertai dengan kelesuan, muntah, diare, leher kaku, atau ruam yang tidak biasa.

Pertolongan Pertama pada Wanita Keguguran


Peristiwa keguguran adalah keluarnya janin pada wanita hamil sebelum kandungannya mencapai 20 minggu. Data menunjukkan bahwa keguguran wanita hamil dapat mencapai 20% dari kehamilan.

Menurut Stanley M. Zildo seperti dikutip dari bukunya yang berjudul 'First Aid, Cara Benar Pertolongan Pertama dan Penanganan Darurat', tanda-tanda keguguran adalah rasa kram pada perut bagian bawah dan diikuti perdarahan. Walaupun terkadang kram dan perdarahan belum terjadi, apabila ada tanda-tanda yang mencurigakan tentang kehamilannya, maka segera bawa ke dokter untuk memastikan status kehamilan.

Jika merasakan tanda-tanda keguguran, lakukan hal sebagai berikut:

- Hentikan semua aktivitas.

- Lakukan relaksasi. Atur napas dan tenangkan pikiran

- Berbaring di tempat tidur

- Jika ada sesuatu keluar dari vagina, simpan di dalam wadah khusus agar dapat dicek oleh dokter

- Jika terjadi perdarahan dan berlanjut, segera bawa ke unit gawat darurat

Sumber : Detik Health

Pertolongan Pertama pada Perdarahan Dalam


Berbeda dengan perdarahan luar, perdarahan dalam seringkali tidak kelihatan. Bila seseorang terkena pukulan, terjatuh atau kecelakaan lain, sebaiknya kemungkinan ini perlu diantisipasi.

Menurut Stanley M. Zildo seperti dikutip dari bukunya yang berjudul 'First Aid, Cara Benar Pertolongan Pertama dan Penanganan Darurat', gejala-gejala perdarahan dalam adalah:
- Korban muntah berwarna gelap seperti kopi atau merah pekat
- Batuk darah berwarna merah segar dan atau berbusa
- Tinja berwarna hitam bercampur darah merah
- Muka terlihat pucat
- Tubuh kedinginan atau kulit terasa lembab
- Mata berkunang-kunang
- Perut membesar
- Gelisah
- Kehausan
- Ketakutan
- Kebingungan

Apabila menemukan kondisi seperti ini, penanganan yang dapat dilakukan adalah:
- Jaga korban agar tetap lancar bernapas
- Usahakan korban tenang untuk menghindari syok
- Jangan pindahkan korban jika mengalami luka di bagian kepala, leher dan tulang belakang
- Jika tidak ada indikasi luka dan tidak mengalami syok, pindahkan dengan posisi tidur
- Jangan memberi minum pada korban
- Periksa kembali dan tangani bila ada luka lain seperti patah tulang
- Panggil paramedis atau bawa segera ke dokter atau unit gawat darurat

Sumber : Detik Health

Pertolongan Pertama pada Perdarahan


 Ada 2 tipe perdarahan, yaitu perdarahan yang berasal dari pembuluh darah vena dan perdarahan yang berasal dari pembuluh darah arteri. Perdarahan pada pembuluh darah vena berwarna agak gelap dan mengalir secara spontan. Sedangkan perdarahan dari pembuluh darah arteri warnanya lebih terang dan alirannya memancar dari tubuh yang terluka.

Perdarahan pada arteri dapat menyebabkan kondisi kritis, sebab darah yang terpompa keluar dengan kecepatan melebihi rata-rata. Akibatnya, korban akan banyak kehilangan darah.

Menurut Stanley M. Zildo seperti dikutip dari bukunya yang berjudul 'First Aid, Cara Benar Pertolongan Pertama dan Penanganan Darurat', menekan langsung pada daerah yang terluka adalah salah tindakan yang dapat dilakukan untuk menghentikan perdarahan, walaupun menyebabkan rasa sakit pada bagian tersebut.

Cara penekanan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1. Letakkan kain tebal yang bersih atau steril seperti saputangan, potongan handuk atau lembaran kain langsung pada area yang terluka. Kemudian tekan perlahan dengan telapak tangan Anda. Apabila tidak ada kain, gunakan tangan atau jari untuk menekan.

2. Teruskan menekan dengan tekanan konstan.

3. Jangan melepaskan kain yang digunakan untuk menekan luka.

4. Apabila darah telah memenuhi kain, jangan dilepas, tetapi tambahkan dengan kain baru dan letakkan di atasnya. Kemudian lanjutkan lagi menahannya dengan tangan Anda.

5. Apabila perdarahan terhenti atau berkurang, gunakan perban untuk diikatkan pada kain penutup luka.

6. Tali perban jangan terlalu kencang untuk menghindari aliran darah arteri terhenti.

7. Usahakan luka pada posisi di atas organ jantung.

Sumber  : Detik Health