Jumat, 08 November 2013

Ingat, Jamu Tidak Mengobati Sakit Tapi Menjaga Kondisi Sehat


Paranggupito
Salah satu hal yang membuat seseorang enggan mengonsumsi jamu untuk kesehatannya, adalah khasiat jamu yang tidak dapat secara serta merta dirasakan. Beberapa prinsip dasar penggunaan jamu adalah mempertahankan tingkat kesehatan, menenangkan sistem tubuh, dan melakukan restorasi fungsi tubuh.

"Jamu tidak mengobati. Jamu berbeda dengan obat dari dokter. Obat dari dokter bekerja saat seseorang sakit. Jamu bekerja saat orang sehat, tujuannya untuk menjaga kondisi sehat tersebut," ungkap dr Aldrin Nelwan, Sp.AK., MARS., M.Kes., M.Biomed, ahli obat-obatan tradisional dari Rumah Sakit Kanker Darmais, Jakarta. Hal itu ia sampaikan dalam acara Pendampingan Pelaku Usaha Jamu Gendong (UJG) dan Usaha Jamu Racikan (UJR) di ruang Avara, Epicentrum Walk, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Jumat (8/11/2013).

Onset atau reaksi tercepat suatu ramuan jamu terhadap kesehatan seseorang adalah 24 jam, imbuh dr Aldrin. Sementara itu, onset yang lambat bisa berlangsung hingga beberapa hari, bahkan minggu. Ada tiga ketegori reaksi tubuh terhadap ramuan jamu. Pertama, healing crisis. Saat mengalami ini, kondisi kesehatan tubuh seolah-olah bertambah buruk. Jika perburukan terjadi hanya selama kurang dari 24 jam, berarti jamu sedang bekerja. Namun jika lebih dari itu, bisa jadi tubuh tidak sesuai dengan ramuan jamu yang dikonsumsi. 

Reaksi kedua adalah aggravasi, yaitu reaksi perbaikan yang perlahan dan terus berlanjut. Ini menandakan, jamu memang tidak manjur untuk kesehatan. Reaksi ketiga adalah ameliorasi, atau reaksi positif. Pada reaksi ini, kondisi kesehatan tubuh langsung membaik, tanpa didahului proses perburukan. Ini menandakan, ramuannya sesuai dengan kebutuhan tubuh.

"Kalau efek jamu dirasa cepat, harusnya konsumen curiga. Karena jamu tidak bisa begitu. Tapi berbeda orang memang berbeda-beda pula reaksinya terhadap jamu. Bisa tergantung berat badannya, imunitasnya, dan lain-lain," ucap dr Aldrin.

Konsumsi jamu ternyata juga tidak dapat diukur menggunakan ukuran-ukuran seperti obat-obatan kimia dari dokter. Misalnya, kalau minum obat dari dokter kita diminta 3 kali sehari setiap setelah makan. Nah, menurut dr Aldrin, konsumsi jamu tidak bisa dipastikan seperti itu. Sebab, selama ini khasiat konsumsi jamu hanya dibuktikan secara empirik oleh masing-masing produsen jamu, bukan berdasarkan ketetapan pihak tertentu.

Detik Health

0 komentar:

Posting Komentar